What do you call this, a woman and a man awkwardly interact in front of their friends, but they actually do it well behind those people?
What do you call that?
What do you call this, a woman and a man awkwardly interact in front of their friends, but they actually do it well behind those people?
What do you call that?
Akhir-akhir ini, saya dan beberapa teman kampus mulai merasa punya passion di bidang lain di luar studi kita saat ini. Tami, Arimi, sama Retika lagi sering bikin kue, bahkan sempet ikut kursus memasak singkat. Trus, saya sama Niken kadang suka membicarakan kehidupan yang agak filosofis jadinya (ceile). Nia dan saya juga sering ngobrolin karakter-karakter orang, bukan ngegosip, tapi lebih ke karakter atau watak orang gitu. Sok-sok jadi psikolog ceritanya. Ella juga kayaknya lebih bersemangat jadi ahli culinary mungkin daripada ngerjain Beton atau Anstrik. Sofyan sih emang ahli desain-mendesain. Wafi, Asep, Dana, sama Biwir juga udah mulai serius sama KuyaFilms.
Apa hubungannya itu sama yang mau saya angkat jadi topik postingan ini?
Sebenernya, saya lebih pingin ngebahas bahwa nggak semua hal yang kita rasa itu passion kita lalu bisa kita jalani menjadi rutinitas atau pekerjaan kita. Mungkin terlalu jauh dan terlalu cepat ya kalo saya menyimpulkan bahwa orang-orang yang saya sebutkan di atas nantinya akan bekerja di bidang teknik sipil, studi yang kita pilih sekarang ini. Saya, jelas punya passion lain di luar sipil (saya bahkan nggak yakin sipil termasuk passion saya atau nggak) dan kadang saya jadi suka berpikir, kenapa saya bisa-bisanya ada di sini? Kenapa dulu nggak pernah kepikiran jadi psikolog? Kenapa dulu nggak kepikiran jadi ahli kuliner?
Ini teori saya, yang baru kepikiran barusan. Semua orang pasti pingin hidupnya berjalan sesuai sama yang diinginkan, termasuk kerja di tempat yang menyenangkan, nyaman, di bidang yang sesuai deh. Padahal mungkin (dan hampir pasti) nggak kan? Lalu saya kepikiran hal lain. Yang membuat saya dan teman-teman saya di atas bisa masuk sipil kan Allah ya, dan saya sendiri belum tau nih apa rahasia di balik itu. Bisa saja, kita memang ternyata punya kemampuan di bidang tersebut yang (mungkin) nantinya itu bakal bermanfaat lebih besar dan lebih luas untuk orang banyak dibandingkan kamu mengutamakan keinginan atau kesenangan diri sendiri. Wallahu’alam.
Sebelum tulisannya kepanjangan dan membosankan, intinya adalah
Jangan sedih atau putus asa kalau kamu merasa bahwa you don’t belong there. Pasti ada alasan kenapa kamu ditempatkan di tempat itu.
Iya sih, nggak suka juga nggak apa-apa. Tapi aku kecewa loh dengan caramu memperlakukan aku (atau mungkin beberapa orang lain yang seperti aku) seperti itu. Entah apa tujuannya, mau bikin il-feel, atau apapun lah, tapi aku cukup kecewa loh. Sekian.
Kalau tujuannya emang mau bikin il-feel, maaf kamu belum berhasil
Masih ada orang baik di Bandung. Waktu abis ngambil utang di ATM BNI Tamansari, tiba-tiba saya dipanggil mbak-mbak satpam yang mau pulang, “Mbak, mbak, mbaak..”. Agak berkali-kali memang, soalnya saya nggak nengok-nengok. Ternyata mbak satpam tadi mau ngasih tau saya kalo saya dipanggil mas-mas satpamnya. Ternyata lagi, mas satpam itu mau ngembaliin kartu ATM saya yang masih nyangkut di mesin ATM. Walaah, ATM sekaligus KTM saya yang baru jadi hampir aja ilang lagi. Terima kasih pak satpam.
Masih ada orang baik di Bandung. Waktu mau nyebrang dari BNI Tamansari (lagi), mbak satpam yang sebelumnya manggil saya ngingetin saya soal laptop yang saya tenteng.
“Mbak, hati-hati laptopnya. Tadi ada yang baru kejambret di sini siang.”
“Wah, oh tadi barusan? Makasih, mbak”
Hmmm, di tengah kekhawatiran orang-orang akan kerawanan Bandung akhir-akhir ini, saya masih ditunjukkan bahwa nggak perlu sekhawatir dan setakut itu ya. Masih ada Yang Maha Menjaga, lewat apapun dan siapapun, termasuk mbak dan mas satpam sore tadi.
You weren’t ready yet that time. I can tell although you didn’t say that. I mean, it’d be better if you hold your feeling and ensure yourself if it’s true or not. Oh, and let’s not waste our productive phase spending time thinking about something useless I really believe that if it’s yours,then it will be yours.
Bandung dingin akhir-akhir ini. Teman-temanku banyak yang mengeluhkan itu setiap ada kuliah pagi. Aku tidak. Ibuku menelponku setiap pagi, mengingatkanku sholat Shubuh, mandi, lalu bersiap kuliah. Hangat sekali.
Oh, aku pakai minyak telon sehabis mandi, kawan.
Kalo dipikir-pikir, masalah sehari-hari kita (baca:saya) nggak segitunya kok kalo dibanding masalah orang-orang di luar sana.
Kalo dipikir-pikir,
sedih dapet nilai jelek nggak seberapa kok dibandingin sedihnya orang yang nggak bisa sekolah dan mesti susah payah untuk sekolah,
susahnya menyeimbangkan proporsi badan nggak ada apa-apanya banget dibandingin perjuangan seorang bapak pemulung yang nyari makan untuk anak dan istrinya,
sedih-sendu nggak jelas itu super nggak worthy kalo dibandingin kesusahan orang-orang yang menderita jauuuh lebih parah dari saya.
OKE, minimalisir mengeluh, better be positive!
Iseng-iseng buka tumblr, trus liat-liat punya temen juga, saya nemuin post ini yang cukup membuat saya terenyuh.
http://engealinasari.tumblr.com/post/14610564439/there-is-no-coincidence
Saya sering ngerasain saat-saat dimana tanpa ada sebab yang jelas, saya merasa sediiih sekali. Awalnya, saya pikir karena jadwal bulanan tapi nggak juga. Toh saat saya nggak berhalangan, saya juga pernah begitu. Entah kenapa rasanya saya itu merasa sendirian. Mau main sama si ini, ah kok nggak pingin juga. Mau nelpon orang tua, ah makin sedih nanti. Pokoknya saya ngerasa saya memang nggak bisa bergantung sama orang lain sebenernya. Trus akhirnya saya memang merasa lebih tenang kalo inget bahwa semuanya ini udah ada yang ngatur lho, udah ditentukan, ada yang Maha Melindungi di segala kondisi saya. Ah jadi mellow lagi kan.
Dulu, kalo ada hal-hal yang nggak berjalan sesuai rencana, saya bakal sangat memikirkan hal itu. Sialnya, sampe beberapa hari saya nggak tenang mikirin hal itu, pikiran-pikiran ‘Kenapa saya nggak melakukan itu? Kenapa saya malah begini?’ yang kadang bercampur rasa bersalah muncul terus-terusan. Kalo udah berlangsung beberapa lama, baru deh lebih tenang. Sampai saya menyadari bahwa,
“… Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”. QS At Talaaq : 3
Bener banget lah. Apapun yang terjadi sama manusia, itu pasti sesuatu yang Allah sudah kehendaki, udah diizinkan untuk terjadi. Baik buruk menurut manusia, pasti ada pelajaran yang bisa diambil dari sana. Yakinlah, nggak ada yang Allah ciptakan di dunia ini sia-sia.
Oke. Saya nggak mau menyesali apa yang sudah terjadi lalu sedih berlarut-larut. Oke, kita belum menang. Walaupun terasa banget, yang lain udah berharap dan yakin kalo kita akan menang, Sibades gitu. Saya sebagai orang yang ikut andil dalam kekalahan itu pastilah ada rasa nggak enak dan bersalah, bohong dan sombong kalo saya bilang nggak. Tapi, seperti yang saya bilang di awal tadi, saya nggak mau berlarut-larut. Toh, itu cuma penghargaan dari orang lain, cuma pengakuan dari manusia ya. Kalo kata Kak Iwan,
Penghargaan hanya sesuatu yang semu. Yang penting, pengabdiannya ke masyarakat lah yang abadi
Sip, setujuh saya. Bisa dibilang sih itu mungkin semacam penghiburan, self motivation biar nggak sedih-sedih amat, haha. Whatever they say, saya pingin menyampaikan beberapa pemikiran dari hal ini.
1. Dari kalahnya kami, ini bisa jadi semacam pengingat bahwa terkadang apa yang sudah kita anggap hebat atas apa yang kita kerjakan belum tentu benar. Kita nggak tau apa yang orang lain udah lakukan dan usahakan. Makanya, nggak boleh sombong yaa
. Seorang teman, si Dito ngasih saran nih, ada baiknya kita nanya sama jurinya, tentang kekurangan kita, dibandingin sama finalis lain deh tuh. Itung-itung upaya perbaikan diri kan.
2. Kebaikan itu bisa ‘dibales’ dengan berbagai cara oleh Allah: Allah memberikan ‘penghargaan langsung tunai’ berupa nama baik di mata orang lain atau Allah ingin memperbanyak pahala kita dengan cara merendahkan hati dan menghindarkan diri dari riya. Aamiin.
3. Kalo mau menang, ya niatin deh dari awal. Saya sih merasa kita memang kurang persiapan. Ini bukan cuma untuk Sibades aja, tapi juga semua karya yang kita niatin untuk didaftarin. Saya nggak tau gimana mekanisme himpunan lain untuk mengikutsertakan karyanya di ajang ini, tapi saya merasa kita sendiri yang kurang peduli dan antusias sama karya kita sendiri. Begitu dapet sorotan dari orang luar, baru deh kita sibuk menunjukkan kebanggaan akan karya kita. Just saying, no offense.
4. Apa yang kita lakukan menurut saya adalah sudah luar biasa, keren banget. Mengutip kata Kak Rendy,
Kami sebagai mahasiswa yang masih belajar nih, berani memutuskan untuk membangun sekolah, sebuah tempat berkegiatan. Dimana sekolah adalah home, manusia beraktivitas di sana, bukan sekedar house. Kami membangun bangunan itu artinya kami siap juga untuk bertanggung jawab kalo terjadi apa-apa sama bangunan itu.
Betapa sebuah tanggung jawab yang tidak main-main. Lalu, mengapa sekolah? Mengapa kita ingin anak-anak di Desa Margaluyu itu terus sekolah? Mengapa kita tidak membiarkan mereka membantu orang tuanya berkebun saja? Toh, jika itu potensi daerah mereka dan mereka bisa melakukan itu, mereka akan bisa tetap hidup dari berkebun, bertani, atau beternak.
Oke, mereka bisa, dan sampai saat ini toh mereka masih bisa makan, bisa tinggal di rumah, bahkan menyekolahkan anak mereka dari hasil kebun. Tapi tegakah kita melihat mereka dicurangi tengkulak? Tegakah kita melihat mereka menjual hasil kebun dan ternak dengan harga murah, sementara para pengusaha di luar sana meraup untung yang luar biasa?
Ya iyalah, kualitasnya pasti beda lah antara pengusaha sama orang desa.
Nah, makanya coooy, semakin jelas kan mengapa pendidikan itu penting. Darimana orang desa tau gimana cara membuat tanamannya tahan dari hama, membuat varietas unggul dan hal lain tentang tanaman yang saya juga nggak paham. Itu baru satu contoh nyata betapa pendidikan itu penting.
Bahwa kita tidak ingin mereka menjadi korban atas keadaan mereka sendiri, apalagi kerakusan orang lain, tanpa melupakan bahwa mereka seharusnya bisa menjadi individu yang mandiri dan mampu bertahan bahkan membantu sesamanya dengan kemampuan mereka nantinya.
Btw, selamat untuk HMTL! Ijo ijo ijo!